Bagaimana Kita Tahu Bahwa Al Quran Tidak Berubah ?

Al Quran adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah SWT. Al Quran tidak berubah dan tidak akan ada manusia yang bisa merubah satupun ayat al quran. Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk/pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Setiap muslim tentu menyadari bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan pedoman hidup dan dasar setiap langkah hidup. Al-Qur’an bukan hanya sekedar mengatur hubungan antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia serta dengan lingkungannya. Itulah sebabnya, Al-Qur’an menjadi sumber hukum yang pertama dan utama bagi umat Islam.

Namun tidak sedikit orang di setiap negara yang beranggapan bahwa isi-isi al quran telah di ubah oleh manusia. Banyak perdebatan diluar sana yang mempermasalahkan tentang “apakah alquran sudah/pernah diubah isinya oleh manusia ?”.

Mungkin Anda juga pernah berpikir, apakah ayat-ayat dari alquran itu murni tanpa sentuhan dari oranglain ?. Lalu, bagaimana kita tahu bahwa alquran tidak berubah ? Berikut adalah penjelasannya.

Janji Allah SWT Melindungi Al Quran

Orang-orang Muslim percaya bahwa Allah SWT telah berjanji untuk melindungi Al-Quran dari perubahan dan kesalahan yang terjadi pada ayat-ayat suci sebelumnya. Allah SWT menyatakan dalam Al Qur’an Surat al-Hijr, ayat 9:

Al Hijr Ayat 9

Artinya:
“Sungguh, Kami yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya, Kami akan menjadi pelindungnya.”

Bagi umat Islam, ayat ini sudah jelas bahwa Allah SWT memang akan melindungi Al-Quran dari kesalahan dan perubahan dari seiring berjalannya waktu. Namun, bagi orang-orang yang tidak menerima keaslian Al-Quran, ayat ini mungkin masih tidak dapat menjadi bukti keasliannya, karena ayat ini ada di dalam Al-Quran itu sendiri.

Narasi Al-Quran kepada Para Sahabat

Nabi SAW menunjuk banyak sahabatnya untuk melayani sebagai ahli Taurat, menuliskan ayat-ayat terbaru segera setelah ayat alquran diturunkan. Mu’awiya bin Abu Sufyan dan Zaid bin Thabit adalah di antara para ahli Taurat yang memiliki tugas ini. Sebagian besar, ayat-ayat baru akan ditulis pada potongan tulang, kulit, atau perkamen, karena kertas belum diimpor dari Cina. Penting untuk dicatat bahwa Muhammad SAW akan meminta para ahli Taurat membacakan kembali ayat-ayat kepadanya setelah menuliskannya sehingga ia dapat mengoreksi dan memastikan tidak ada kesalahan.

Untuk lebih memastikan bahwa tidak ada kesalahan, Nabi Muhammad SAW memerintahkan bahwa tidak boleh ada yang mencatat hal-hal lain, bahkan kata-katanya, hadits, pada lembaran yang sama dengan Quran. Mengenai lembaran-lembaran yang sedang ditulis Al-Quran, dia mengatakan “dan siapa pun yang menulis sesuatu dari saya selain Al-Quran harus menghapusnya” Ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada kata-kata lain yang secara tidak sengaja dianggap sebagai bagian dari teks Al-Quran.

Penting untuk dipahami, bahwa penulisan fisik Al-Quran bukanlah cara utama mencatat Al-Quran. Saudi di tahun 600an adalah masyarakat lisan. Sangat sedikit orang yang bisa membaca dan menulis, sehingga penekanan besar ditempatkan pada kemampuan untuk menghafal puisi panjang, surat, dan pesan lainnya. Sebelum Islam, Mekah adalah pusat puisi Arab. Festival tahunan diadakan setiap tahun yang mempertemukan para penyair terbaik dari seluruh Semenanjung Arab. Peserta yang bersemangat akan menghafal kata-kata persis yang dibacakan penyair favorit mereka dan mengutipnya bertahun-tahun kemudian.

Dengan demikian, dalam jenis masyarakat lisan ini, sebagian besar sahabat mempelajari dan mencatat Al-Quran dengan menghafal. Selain kemampuan alami mereka untuk menghafal, sifat ritmis dari Al-Quran membuat hafalannya jauh lebih mudah.

Al-Quran tidak dikisahkan hanya untuk beberapa sahabat terpilih. Itu didengar dan dihafal oleh ratusan dan ribuan orang, banyak dari mereka yang bepergian ke Madinah. Dengan demikian, bab dan ayat-ayat Al-Quran dengan cepat menyebar selama kehidupan Nabi SAW ke seluruh penjuru Semenanjung Arab. Mereka yang telah mendengar ayat-ayat dari Nabi SAW akan pergi dan menyebarkannya ke suku-suku yang jauh, yang juga akan menghafalnya. Dengan cara ini, Al-Quran mencapai status sastra yang dikenal di kalangan orang Arab sebagai mutawatir. Mutawatir berarti disebarkan secara luas kepada begitu banyak kelompok orang yang berbeda, yang semuanya memiliki kata-kata yang persis sama, sehingga tidak dapat dibayangkan bahwa satu orang atau kelompok mana pun dapat memalsukannya. Beberapa perkataan Nabi SAW dikenal otentik karena mutawatir, tetapi seluruh Quran sendiri diterima sebagai mutawatir, karena penyebarannya yang luas selama kehidupan Nabi SAW melalui cara lisan.

Yang Dilakukan Sahabat Setelah Kematian Nabi SAW

Ketika ayat-ayat tersebar luas di seluruh dunia Islam, tidak mungkin ayat-ayat itu diubah tanpa umat Islam di bagian lain dunia memperhatikan dan memperbaikinya. Selanjutnya, selama kehidupan Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibreel akan membaca seluruh Al-Quran bersamanya setahun sekali, selama bulan Ramadhan. Ketika Al-Qur’an selesai diturunkan di dekat akhir kehidupan Nabi SAW, ia memastikan bahwa banyak sahabat yang tahu seluruh isi Al-Quran.

Namun, selama masa pemerintahan para khalifah pertama, kebutuhan untuk menyusun semua ayat menjadi sebuah buku pusat muncul. Mengambil tindakan pencegahan, para khalifah yang memerintah dunia Muslim setelah wafatnya Nabi SAW khawatir bahwa jika jumlah orang yang hafal Al Quran turun terlalu rendah, masyarakat akan berada dalam bahaya kehilangan Al-Quran selamanya. Sebagai hasilnya, khalifah pertama, Abu Bakar, yang memerintah dari 632 hingga 634, memerintahkan sebuah komite diorganisir, di bawah kepemimpinan Zaid bin Thabit, untuk mengumpulkan semua potongan-potongan tertulis dari Al-Quran yang tersebar di seluruh komunitas Muslim. Rencananya adalah untuk mengumpulkan mereka semua menjadi satu buku utama yang bisa dilestarikan jika orang-orang yang hafal Al-Quran mati.

Zaid sangat teliti tentang siapa dia yang menerima ayat-ayat. Karena tanggung jawab yang sangat besar untuk secara tidak sengaja mengubah kata-kata Al-Quran, ia hanya menerima potongan perkamen dengan Al-Quran yang harus ditulis di hadapan Nabi SAW dan harus ada dua saksi yang dapat membuktikan hal itu. Pecahan-pecahan Al-Quran yang ia kumpulkan ini masing-masing dibandingkan dengan Al-Quran yang dihafalkan itu sendiri, memastikan bahwa tidak ada perbedaan antara versi tertulis dan lisan.

Ketika tugas itu selesai, sebuah buku final dari semua ayat disusun dan disajikan kepada Abu Bakar, yang mengamankannya di arsip negara Muslim muda di Madinah. Dapat diasumsikan dengan pasti bahwa salinan ini persis dengan kata-kata yang diucapkan Muhammad SAW karena banyaknya penghafal Al-Quran yang hadir di Madinah, ditambah dengan potongan-potongan perkamen yang disebarluaskan di mana ia dicatat. Jika ada perbedaan, orang-orang Madinah akan mengangkat masalah ini. Namun, tidak ada catatan tentang oposisi terhadap proyek Abu Bakar atau hasilnya.

Mus’haf Uthman

Selama kekhalifahan Utsman, dari 644 hingga 656, masalah baru tentang Alquran muncul di komunitas Muslim: pelafalan. Selama kehidupan Nabi SAW, Al-Quran diturunkan dalam tujuh dialek yang berbeda – qira’as. Dialek-dialek sedikit berbeda dalam pengucapan huruf dan kata-kata tertentu, tetapi arti keseluruhannya tidak berubah. Ketujuh dialek ini bukanlah inovasi yang dibawa oleh korupsi Al-Quran di tahun-tahun kemudian, seperti yang disebutkan oleh Nabi SAW sendiri, dan ada banyak ucapannya yang menggambarkan keaslian ketujuh dialek yang dicatat dalam kompilasi hadits Bukhari dan Muslim. Alasan untuk adanya dialek yang berbeda untuk Al-Quran adalah untuk memudahkan suku-suku yang berbeda di sekitar Semenanjung Arab untuk belajar dan memahaminya.

Selama pemerintahan Uthman, orang-orang yang datang ke dunia Muslim di pinggirannya, di tempat-tempat seperti Persia, Azerbaijan, Armenia, dan Afrika Utara mulai belajar Al-Quran. Suatu masalah muncul bagi mereka ketika berbicara tentang pelafalan kata-kata, karena mereka akan mendengar orang Arab yang berbeda mengucapkan ayat yang sama secara berbeda. Meskipun pelafalan yang berbeda disetujui oleh Nabi SAW dan tidak ada bahaya yang melekat pada orang-orang melafalkan dan mengajar mereka, itu menyebabkan kebingungan di antara Muslim baru non-Arab.

Uthman menanggapi dengan menugaskan kelompok untuk berkumpul, mengatur Al-Quran sesuai dengan dialek suku Quraisy (suku Nabi SAW), dan menyebarkan dialek Quraisy ke semua bagian kekaisaran. Tim Uthman (yang lagi-lagi termasuk Zaid bin Thabit) menyusun Al-Quran menjadi satu buku (dikenal sebagai mus’haf – dari kata untuk halaman, sahifa) berdasarkan pada manuskrip tangan pertama bersama dengan ingatan para pengaji Al-Quran terbaik Madinah. Mus’haf ini kemudian dibandingkan dengan salinan yang ditugaskan Abu Bakar, untuk memastikan tidak ada perbedaan. Uthman kemudian memerintahkan sejumlah salinan mus’haf yang akan dibuat, yang dikirim ke provinsi-provinsi jauh di seluruh kekaisaran, bersama dengan reciters yang akan mengajar massa Quran.

Dia kemudian memerintahkan agar pecahan-pecahan itu dihancurkan sehingga tidak dapat digunakan di masa depan untuk menimbulkan kebingungan di antara massa. Seluruh komunitas di Madinah, termasuk sejumlah sahabat terkemuka seperti Ali ibn Abi Thalib, dengan rela mengikuti rencana ini, dan tidak ada keberatan yang disuarakan. Jika dia menghilangkan perbedaan yang sah, orang-orang Madinah pasti akan keberatan atau bahkan memberontak terhadap Utsman, yang keduanya tidak terjadi. Sebagai gantinya, mus’haf Uthman diterima oleh seluruh komunitas sebagai otentik dan benar.

Sistem Isnad

Salah satu masalah yang paling mendesak di mata umat adalah perlindungan kesucian Quran. Umat Islam diingatkan bahwa orang Yahudi dan Kristen merusak teks mereka dari waktu ke waktu, yang sekarang tidak dapat dianggap otentik. Akibatnya, Umat Muslim mengembangkan sistem untuk memastikan bahwa Quran dan hadis tidak akan berubah oleh kesalahan manusia, baik disengaja atau tidak disengaja.

Sistem yang dikembangkan dikenal sebagai sistem isnad. Sistem isnad menekankan pada sanad, dari perkataan tertentu. Misalnya, dalam kompilasi hadits Bukhari, masing-masing hadits didahului oleh rantai perawi yang beralih dari Bukhari kembali ke Nabi Muhammad SAW. Rantai ini dikenal sebagai sanad. Untuk memastikan bahwa hadis itu otentik, setiap narator dalam rantai itu harus diketahui dapat dipercaya, memiliki ingatan yang baik, dapat dipercaya, dan memiliki sifat-sifat benar lainnya.

Komunitas Islam awal sangat menekankan sistem ini untuk menentukan keaslian hadits serta ayat-ayat dari Quran. Jika seseorang mengklaim memiliki sebuah ayat yang tidak ada dalam teks kanonik dari mus’haf Uthman, para ulama akan melihat rantai yang orang klaim kembalikan ke Nabi saw dan ditentukan darinya jika ada kemungkinan bahwa itu adalah ayat. asli. Jelas, siapa pun yang memalsukan ayat-ayat Al-Quran tidak akan dapat menghubungkannya dengan Nabi SAW.

Sistem isnad dengan demikian bekerja untuk menjaga kesucian Quran dan juga hadits, karena mencegah orang dari membuat klaim yang salah yang kemudian dapat diterima sebagai fakta. Melalui fokus pada keandalan sanad, keandalan ayat-ayat atau hadis itu sendiri dapat dipastikan. Zaid bin Thabit menggunakan sistem proto-isnad dalam karyanya menyusun Al-Quran selama kekhalifahan Abu Bakar, dan pertumbuhan sistem isnad pada dekade-dekade berikutnya membantu melindungi teks agar tidak diubah dengan cara apa pun.

Kesimpulan

Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai studi lengkap tentang sejarah Al-Quran. Namun, jelas melalui masalah pengantar yang disebutkan di sini bahwa teks Al-Qur’an jelas tidak berubah dari zaman Muhammad SAW hingga saat ini. Fakta bahwa itu sangat tersebar luas selama hidupnya membantu memastikan bahwa segala upaya jahat untuk mengubah kata-kata kitab suci akan sia-sia. Kompilasi teks yang cermat oleh Abu Bakar dan Utsman berfungsi sebagai sistem cadangan jika pelestarian lisan Al-Quran hilang. Akhirnya, sistem isnad membantu memastikan klaim untuk menambah atau menghapus dari Al-Quran tidak dapat melewati proses ilmiah yang merupakan pusat pelestarian Islam itu sendiri.

Sebagai kesimpulan, klaim para orientalis bahwa Quran telah diubah dari waktu ke waktu karena Alkitab dan Taurat jelas menyesatkan. Tidak ada bukti yang mendukung gagasan bahwa Alquran telah berubah, dan upaya untuk membuktikan bahwa ia didasarkan pada pemahaman yang belum sempurna dan tidak terpelajar tentang sejarah teks Alquran.

Sumber: IslamiCity

Bacaan Niat Sholat Jumat Bahasa Arab dan Artinya Serta Keutamaan dan Sunnahnya

Sholat Jumat adalah sholat yang dilakukan di hari Jum’at secara berjamaah setelah masuk waktu Dhuhur. Untuk dapat melakukan sholat Jum’at berjamaah, jumlah yang hadir minimal harus 40 orang dan dilakukan di masjid yang dapat menampung banyak jamaah.

Sholat atau Shalat Jumat merupakan aktivitas ibadah wajib yang dilaksanakan secara berjama’ah bagi lelaki Muslim setiap hari Jumat yang menggantikan salat Dzuhur.

Bacaan Niat Hari Jumat

Hukum Shalat Jumat

Hukum sholat jumat bagi laki-laki adalah wajib. Hal ini berdasarkan dalil sholat Jumat yang diambil dari Al Qur’an, As-Sunnah dan ijma atau kesepakatan para ulama. Dalilnya adalah surat Al Jumu’ah ayat 9 yang berbunyi,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk menunaikan sholat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”

Sedangkan hadist Nabi yang memerintahkan untuk melaksanakan sholat Jumat adalah dari hadist Thariq bin Syihab yang berbunyi,

“Jumatan adalah hak yang wajib atas setiap muslim dengan berjamaah, selain atas empat (golongan), yakni budak sahaya, wanita, anak kecil atau orang yang sakit.” (HR. Abu Dawud)

Jadi, hukum shalat Jum’at bagi laki-laki adalah fardhu ‘ain, yakni wajib dilakukan bagi setiap laki-laki. Sedangkan bagi wanita tidak diwajibkan, namun tetap harus melaksanakan sholat Dhuhur.

Keutamaan Sholat Jumat

Hari Jumat merupakan penghulunya hari (sayyidul ayyam). Umat islam menganggap hari jum’at sebagai hari yang istimewa, hal ini karena Nabi Adam As diciptakan pada hari Jum’at serta dimasukkannya beliau ke dalam surga. Selain itu, pada hari Jum’at juga hari saat nabi Adam dikeluarkan dari surga menuju bumi, serta terjadinya kiamat yang juga akan terjadi di hari Jum’at sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist. Dari Aus bin ‘Aus, Rasulullah bersabda,

Sesungguhnya diantara hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu pula Adam diwafatkan, di hari itu tiupan sangkakala pertama dilaksanakan, di hari itu pula tiupan kedua dilakukan”. (HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Pada hari Jum’at juga diyakini sebagai waktu yang mustajab untuk berdoa dan dosa-dosa diampuni hingga hari Jum’at berikutnya bila kita bertaubat dan memperbanyak membaca istighfar. Sehingga hikmah sholat Jumat sangat besar sekali.

 

Sunnah Sebelum Shalat Jumat

Setelah mengetahui bahwa shalat Jumat hukumnya wajib bagi laki-laki serta memahami keutamaan sholat Jumat selain sebagai penambah pahala juga sebagai penghapus dosa, maka yang kemudian harus diketahui adalah hal-hal yang disunnahkan oleh Nabi sebelum dan sesudah melakukan shalat Jumat di masjid.

  1. Mandi 
  2. Memotong kuku dan mencukur kumis
  3. Memakai pakaian yang rapi dan bersih ( lebih diutamakan berwarna putih )
  4. Memakai wangi-wangian. Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dan memakai pakaian yang terbaik yang dimiliki, memakai harum-haruman jika ada, kemudian pergi melaksanakan shalat Jumat dan di sana tidak melangkahi bahu manusia lalu mengerjakan shalat Sunnah, kemudian imam datang dan ia diam sampai selesai shalat jumat maka perbuatannya itu akan menghapuskan dosa antara jumat itu dan jumat sebelumnya
  5. Berdoa ketika keluar rumah
  6. Segera menuju masjid dengan berjalan kaki perlahan-lahan dan tidak banyak bicara.
  7. Ketika masuk ke masjid melangkah dengan kaki kanan dan membaca doa.
  8. Melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid. 
  9. I’tikaf sambil membaca Al Qur’an, berdzikir atau bersholawat ketika khatib belum naik ke mimbar, namun bila khatib telah naik ke mimbar hendaknya para jamaah menghentikan dzikir atau bacaan Al Qur’an dan mendengarkan khotbah jumat.

Sunnah Setelah Sholat Jumat

Setelah shalat Jumat, jamaah disunnahkan membaca dzikir dan mengerjakan shalat sunnah ba’diyah Jumat baik saat di masjid atau ketika telah berada di rumah.

Menurut riwayat, Nabi Muhammad SAW mengerjakan shalat sesudah shalat jumat dua rakaat di rumahnya. (HR. Al Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah)

Di hari Jumat kita diperintahkan untuk memperbanyak shalawat atas Nabi SAW. Dari Abu Umamah , Rasulullah SAW bersabda,

Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jumat. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku setiap Jumat. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti”. (HR. Baihaqi).

Kebiasaan Nabi yang lain pada setiap hari Jumat adalah membaca surat Al Kahfi, rentang waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari di hari Kamis hingga terbenamnya matahari di hari Jumat.Rasulullah bersabda,

Barangsiapa membaca surat al Kahfi pada hari Jumat, akan bersinar baginya cahaya antara dirinya dan Baitul Haram”. (HR. Baihaqi).

Datang ke masjid lebih awal juga merupakan perbuatan yang utama bagi laki-laki yang akan menunaikan shalat jamaah Jumat. Sebagaimana sebuah hadist yang menyebutkan, dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda,

Pada hari Jumat di setiap pintu masjid ada beberapa malaikat yang mencatat satu persatu orang yang hadir sholat jumat sesuai dengan kualitas kedudukannya. Apabila imam datang atau telah naik mimbar, maka para malaikat itu menutup lembaran catatan tersebut lalu mereka bersiap-siap mendengarkan khotbah sholat Jumat. Orang yang datang lebih awal diumpamakan seperti orang yang berqurban seekor unta gemuk, orang yang datang berikutnya seperti yang berqurban sapi dan orang yang datang berikutnya seperti orang yang berqurban kambing. Yang datang selanjutnya seperti orang yang bersedekah seekor ayam dan berikutnya yang terakhir seperti orang yang bersedekah dengan sebutir telur. (HR. Bukhori).

Bacaan Niat Shalat Jum’at

Niat Sholat Jum’at Sebagai Makmum

اُصَلِّيْ فَرْضَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ اَدَاءً مَاْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ushollii fardhol jum’ati rak’ataini adaa-an ma-muuman lillaahi ta’aala

Artinya : “Aku niat melakukan shalat jum’at 2 rakaat sebagai makmum, karena Allah Ta’ala”Sedangkan untuk niat sholat jum’at sebagai imam adalah sebagai berikut.

Niat Sholat Jum’at Sebagai Imam

اُصَلِّيْ فَرْضَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ اَدَاءً اِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Usholli fardhol jum’ati rak’ataini adaa-an imaaman lillaahi ta’aala

Artinya : “Aku niat melakukan shalat jum’at 2 rakaat sebagai imam, karena Allah Ta’ala”

Sebagai tambahan bila ada seseorang makmum yang terlambat sholat jum’at, saat imam sudah mendapatkan satu rakaat, maka boleh menyusul mengikuti imam. Tetapi bila imam salam, maka ia harus menambah satu rakaat lagi.

Dan jika seseorang akan sholat jum’at datangnya terlambat sampai imam sudah sujud terakhir (pada rakaat kedua), maka dapat pula menyusulnya, tetapi setelah imam selesai shalat, maka ia harus berdiri untuk memulai sholat dhuhur yaitu empat rakaat, tanpa niat shalat dhuhur. maka yang demikian ini dinamai: “Sholla wa laa nawaa, nawaa wa laa sholla” yang artinya: “Niat sholat Jum’at tapi tidak sholat Jum’at, dan tidak niat sholat dhuhur tapi sholat dhuhur”

 

Kesesuaian Antara Al Quran Dengan Sains Modern

Kebenaran ayat-ayat dalam Al Quran sudah diyakini oleh umat Islam sejak awal tanpa perlu membuktikannya, termasuk kalimat-kalimat tentang penciptaan langit dan bumi, kehidupan, penciptaan manusia, dan sebagainya. Fakta Ilmiah dalam Al Quran telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan.

Para ulama sependapat, di antara sekian banyak mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad saw, yang terbesar adalah Alquran. Al Quran adalah kitab suci penyempurna kitab-kitab suci para nabi sebelumnya. Al quran bukan hanya petunjuk untuk mencapai kebahagiaan hidup bagi umat Muslim, tapi juga seluruh umat manusia.

Salah satu keajaiban Alquran, adalah terpelihara keasliannya dan tidak berubah sedikitpun sejak pertama kali diturunkan pada malam 17 Ramadan 14 abad yang lalu hingga kiamat nanti. Otentisitas Alquran sudah dijamin oleh Allah, seperti dalam firman-Nya :

Al-Hijr - 9

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan Sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.”
(QS Al-Hijr: 9)

Bukti otentisitas ini adalah banyaknya penghafal Al Quran yang terus lahir ke dunia, dan pengkajian ilmiah terhadap ayat-ayatnya yang tak pernah berhenti. Kejaibannya, meski Alquran diturunkan 14 abad lalu, namun ayat-ayatnya banyak yang menjelaskan tentang masa depan dan bersifat ilmiah. Bahkan dengan kemajuan ilmu dan teknologi saat ini, banyak ayat-ayat Alquran yang terbukti kebenarannya. Para ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran itu melalui sejumlah ekperimen penelitian ilmiah.

Berikut fakta ilmiah Kesesuaian Ayat-ayat Alquran dengan sains, di mana berbagai penemuan ilmiah saat ini ternyata sesuai dengan ayat-ayatnya.

Fakta Kesesuaian Al-Qur’an Dengan Sains

1. Al Quran dan Teori Big Bang 

Teori Big Bang

Dalam bidang astronomi, para ilmuan menjelaskan bagaimana jagat raya (alam semesta) tercipta. Dan para ilmuan menyebutnya dengan Big Bang. Mereka berkata bahwa pada awalnya alam semesta ini mulanya berasal dari satu nebula utama, lalu terjadilah ledakan besar (big bang) pada nebula yang kemudian dari ledakan tersebut menciptakan galaksi, bintang-bintang, planet-planet, matahari, bulan, dan bumi tempat kita hidup sekarang ini.

Teori ini pertama kali ditemukan oleh Abbe Georges Lemaitre, seorang kosmolog  pada tahun 1920-an.

Padahal, teori ini sudah disebutkan dalam Quran yang sudah ada sejak 1.400 tahun lalu. :O

Dalam Surat Al-Anbya Ayat ke 30 dijelaskan bahwa,

Al Anbya 30

Artinya:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiyaa’ : 30)

Teori Big Bang baru ditemukan pada tahun 1920 yang lalu, padahal sudah disebutkan dalam al quran yang sudah ada 1.400 tahun lalu.

2. Bumi Itu Bulat (oval, seperti telur burung unta)

Bumi Bulat

Sir Francis Drake adalah seorang pelaut kapal perang, navigator, pahlawan angkatan laut, politikus, dan insinyur sipil berkebangsaan Inggris pada masa Elizabethan. Ia adalah orang Inggris pertama yang mengelilingi bumi. Dia menemukan dan membuktikan bahwa bumi itu bulat.

Hal tersebut diketahui sekitar 450 tahun yang lalu, Padahal sudah disebutkan dalam al quran yang sudah ada 1.400 tahun lalu.

Dalam surat An-Nazi’at Ayat ke 30 dijelaskan bahwa,

an-naziat 30

Artinya:
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”

Kata arab “Dahaha“, maknanya adalah “dihamparkan” dan makna lainnya dalam bahasa arab juga bisa berarti telur burung unta. Yang mana bentuk telur burung unta menyerupai bentuk geo-spherical bumi.

3. Garis Edar Tata Surya

Garis Edar Tata Surya

Sebelum ilmu astronomi berkembang, sebagian orang percaya matahari bergerak mengitari bumi, bukan sebaliknya. Barulah di saat astronom Nicholas Copernicus pada 1512 masehi mengungkapkan bahwa matahari menjadi pusat tata surya.

Kemudian pada 1609, seorang ilmuwan Jerman bernama Johannes Kepler juga mengungkapnya teorinya yang disebut Astronomia Nova. Dalam teorinya, planet-planet di tata surya tidak hanya berputar di garis edarnya, namun juga berputar pada porosnya. Dengan adanya teori tersebut memungkinkan banyak orang untuk mempelajari mekanisme tata surya yang sebenarnya.

Fakta sains diatas sejatinya telah ada dalam Alquran yang hadir sejak abad ke-7 M. Padahal, pada zaman itu manusia tidak memiliki teleskop ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anbiya [21] ayat 33:

An Naziat 30

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”

4. Siklus Air Kehidupan

suklus air

Apa yang kita pelajari saat di sekolah, bahwa air berevaporasi (evaporation) ke langit > membentuk awan > awan tersebut bergerak > dan jatuh dalam bentuk hujan.

Dalam al quran membicarakan tentang siklus air dengan sangat detail dalam banyak ayat, ayat-ayat yang membicarakan siklus air tersebut diantaranya yaitu:

  • Surah Luqman Ayat 31
  • Surat Ar-Rum Ayat 24
  • Surat Ar-Rum Ayat 48
  • Surah Al-Hijr Ayat 22
  • Surah Al-Mu’minun Ayat 18
  • Sutah An-Nur Ayat 43
  • Surat Al-A’raf Ayat 57

Dan masih banyak lagi ayat-ayat quran yang menjelaskan tentang siklus air di bumi.

5. Tanaman Punya Jenis Kelamin (beberapa)

jenis kelamin tanaman

Dalam bidang botani dijelaskan bahwa tanaman punya jenis kelamin, jantan dan betina. Listrik berpasangan, negatif dan positif.

Quran sudah menjelaskan tentang hal ini.

Surah Ar-Raad Ayat 3 : “Kami telah menciptakan buah berpasang-pasangan”.

Surah Ya-Sin Ayat 36:

yasin 36

“Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasangan, baik yang kamu ketahui maupun yang tidak kamu ketahui.”

6. Sidik Jari

sidik jari

Setiap orang sudah pasti memiliki sidik jari yang berbeda-beda. Bahkan bagi dua orang yang kembar identik sekalipun, mereka memiliki ciri khas sidik jari yang tak sama.

Namun rupanya sidik jari baru ditemukan pada akhir abad ke-19. Sebelum itu, orang menganggap sidik jari sebagai lekukan biasa tanpa makna tertentu. Meski begitu, di dalam Alquran Allah telah menyebutkan sidik jari atau ujung jari yang tidak menarik perhatian orang-orang pada zaman tersebut.

Allah menyebutkan perihal sidik jari dalam surah Al-Qiyamah ayat 3-4. Dalam surah tersebut Allah berfirman,

Al-Qiyamah 3-4

“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya. (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”)

7. Rasa Sakit

teori rasa sakit

Dahulu para dokter mengira bahwa otaklah yang bertanggung jawab atas rasa sakit. Sekarang sudah diketahui bahwa ada reseptor tertentu dalam kulit yang disebut reseptor rasa sakit, yang juga bertanggung jawab atas rasa sakit itu. 

Disebutkan dalam Al Quran, Surah An-Nisa 56:

An-Nisa 56

“Orang orang yang kafir kepada ayat-ayat kami kelak akan kami masukan mereka kedalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang baru, supaya mereka merasakan azab.”

Kita lihat kembali diatas disebutkan bahwa “Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang baru, supaya mereka merasakan azab.“, Menandakan bahwa ada sesuatu dalam kulit yang bertanggung jawab atas rasa sakit yang disebut dokter sebagai reseptor rasa sakit.

Seorang profesor bernama Tagatat Tajasen begitu terpukau bahwa quran menyebutkan ini 1.400 tahun yang lalu, sehingga pada 9th Medical di Arab Saudi, Riyadh, di konferensi itu Profesor Tagatat Tajasen mengucapkan syahadat “lailahaillallah muhammadarrasulullah, tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

 

Manfaat dan Keutamaan Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jumat

Keutamaan Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jumat

Surat Al Kahfi di Hari Jumat

Hari Jumat adalah salah satu hari yang istimewa bagi kaum muslimin. Jum’at adalah hari yang mulia, dan ummat Islam di seluruh penjuru dunia memuliakannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke surga, pada hari itu dia dikeluarkan dari surga, dan hari qiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Nabi bersabda, “Tidak ada hari yang lebih mulia selama matahari terbit dan terbenam selain hari Jum’at”.(HR.Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Satu di antara banyak amalan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, adalah membaca surat Al Kahfi di Hari Jum’at.

Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini ketika malam Jum’at atau hari Jum’at, yaitu membaca surat Al Kahfi. Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. Padahal membaca surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) di hari Jum’at karena pahala yang begitu besar sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits-Hadits Tentang Membaca Surat Al Kahfi

Hadis Pertama

Surat Al Kahfi di Hari Jumat

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.”
(HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471)

Hadis Kedua

Surat Al Kahfi di Hari Jumat

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.”
(HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Ketiga, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”

Al-Mundziri berkata: “hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”

Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat

Mendapatkan Cahaya yang Terang di Hari Kiamat

cahara di hari jumat

Dari beberapa riwayat di atas, bahwa ganjaran yang disiapkan bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari).

Dan cahaya ini diberikan pada hari kiamat, yang memanjang dari bawah kedua telapak kakinya sampai ke langit.

Dan hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Surat Al Kahfi di Hari Jumat

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.”
(QS. Al-Hadid: 12)

Menangkal Fitnah Dajjal

fitnah dajjal

Nabi Muhammad SAW mengabarkan, membaca surat Al Kahfi adalah penangkal dari fitnah Dajjal. Yaitu dengan membaca dan menghafal beberapa ayat dari surat Al-Kahfi.

Sebagian riwayat menerangkan sepuluh yang pertama, sebagian keterangan lagi sepuluh ayat terakhir.

Imam Nawawi berkata, “Sebabnya, karena pada awal-awal surat al-Kahfi itu tedapat/ berisi keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kebesaran Allah. Maka orang yang merenungkan tidak akan tertipu dengan fitnah Dajjal.”

(Diolah dari berbagai sumber)

Baca Al-Quran dari Komputer, HP, Tablet, dll ? Ini Dia Hukumnya

Hukum Membaca Al Quran Lewat HP, Komputer, Tablet dan Alat Elektronik Lainnya

Baca Alquran di Handphone

Bagaimana hukumnya membaca ayat Alquran tanpa berwudhu dulu? Bagaimana dengan ayat-ayat Alquran di dalam komputer, HP, dan tablet yang mudah membawanya, apakah untuk membaca ayat-ayat Alquran tersebut harus wudlu dulu?

Asmita Sulastri, PNS di Surabaya

Jawaban:

Para ulama sepakat bahwa membaca Alquran tanpa memiliki wudhu dulu itu diperbolehkan, yaitu membacanya dengan hafalan, tidak sedang memegangnya atau menyentuh mushaf tersebut. Ini jelas boleh walaupun sedang mengandung hadas kecil, bahkan ada juga ulama yang memperbolehkan membacanya walaupun sedang mempunyai hadas besar. Tapi pandangan ini sedikit, kebanyakan ulama tidak membolehkan membaca Alquran dalam keadaan junub (memiliki hadas besar).

Dalil diperbolehkannya membaca Alquran walaupun tanpa berwudhu adalah hadis yang dilaporkan oleh Sahabat Ali bin Abi Talib bahwa sannya:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي الْخَلَاءَ فَيَقْضِي الْحَاجَةَ ثُمَّ يَخْرُجُ فَيَأْكُلُ مَعَنَا الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ وَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلَا يَحْجُبُهُ وَرُبَّمَا قَالَ لَا يَحْجُزُهُ عَنْ الْقُرْآنِ شَيْءٌ إِلَّا الْجَنَابَةُ

Rasul saw pernah masuk ke kamar kecil lalu menyelesaikan hajatnya. Kemudian beliau keluar dan makan roti dan daging besama kami, beliau juga membaca Al-Qur’an. Tidak ada yang menghalanginya. Mungkin beliau bersabda: tidak menghalanginya- dari membaca Al-Qur’an kecuali junub”. (Hr. Ibnu Majah)

Adapun yang dilarang adalah menyentuh mushaf tanpa memiliki wudhu itu sebagian ulama tidak memperbolehkannya, jadi orang yang mau membaca Alquran sambil memegang mushaf hukumnya wajib berwudhu dulu, alias tidak berhadas kecil.

Allah berfirman di dalam Surat al-Waqi’ah:

“Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhmahfuz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini”. (QS. Al-Waqi’ah: 77-81)

Dari ayat di atas, para ulama memahami bahwa orang yang boleh menyentuh Alquran adalah mereka yang sudah bersuci terlebih dahulu, sehingga saat memegangnya ia dalam keadaan suci terhidar dari hadas. Hal ini dikuatkan dengan hadis ayah Abdullah bin Abi Bakar bahwasannya Rasul menulis surat kepada Amr bin Hazm:

لا يمس القرآن إلا طاهر

“Tidak boleh menyentuh Alquran kecuali orang yang suci”. (Hr. Abu Dawud)

Dari teks ini sudah jelas bahwa orang yang mau menyentuh Alquran harus bersuci terlebih dahulu. Adapun hukum membaca Alquran dengan membawa Hp, Laptop, atau Tablet, sebagian ulama memperbolehkannya. Dengan alasan bahwa Hp dan barang-barang elektronik itu bukan termasuk mushaf yang haram disentuh bagi orang yang tidak punya wudhu. Ketika dipindah ke program lain maka bentuk yang mirip mushaf itu hilang. Sebab itu bukan tulisan, itu hanya gelombang-gelombang saja.

Namun, pandangan yang lebih hati-hati adalah kita tidak memegang hp itu ketika masih muncul gambar mushaf. Artinya ketika membuka program mushaf lebih baik kita dalam keadaan suci, sebab ia mirip dengan mushaf, hanya saja bukan dari kertas dan tinta tapi dari elemen kaca dan gelombang cahaya. Maka, ini ada kemungkinan mengandung unsure mushaf. Lebih hati-hati akan lebih baik dalam menjalankuan hokum islam. Wallahu a’lam.

Sumber: Bangsa Online

Keutamaan dan Keistimewaan Membaca Alquran di Bulan Ramadhan

Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan banyak berkahnya. Setiap muslim pasti sering mendengar bahwa bulan Ramadhan adalah bulannya Al-Quran. Karena memang sangat banyak sekali dalil yang menunjukkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,

QS Al Baqarah 185

Artinya: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS Al Baqarah : 185)

Sedangkan keutamaan membaca Al-Quran sangat banyak dijelaskan, salah satunya adalah Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Begitu juga Sabda beliau,

مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam” ( HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468)

Keutamaan mengkhatamkan Al-Quran di Bulan Ramadhan

Hal Ini dicontohkan langsung oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

أن جبريل كان يعْرضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعرضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فيه

Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan ramadhan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alayi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali (untuk mengokohkan dan memantapkannya)” ( HR. Bukhari no. 4614)

Ibnu Atsir rahimahullah menjelaskan,

أي كان يدارسه جميع ما نزل من القرآن

“yaitu mempelajari (mudarasah) semua ayat Al-Quran yang turun” ( Al-Jami’ fi Gharib Hadits, 4/64).

Hendaknya shalat Tarawih mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan

Praktek shalat tawarih dengan target mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan adalah perbuatan yang sangat baik. Satu malam shalat tarawih yang di baca satu juz. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

ويمكن أن يفهم من ذلك أن قراءة القرآن كاملة من الإمام على الجماعة في رمضان نوع من هذه المدارسة، لأن في هذا إفادة لهم عن جميع القرآن، ولهذا كان الإمام أحمد رحمه الله يحب ممن يؤمهم أن يختم بهم القرآن، وهذا من جنس عمل السلف في محبة سماع القرآن كله، ولكن ليس هذا موجبا لأن يعجل ولا يتأنى في قراءته، ولا يتحرى الخشوع والطمأنينة، بل تحري هذه الأمور أولى من مراعاة الختمة

“dipahami dari (hadits) tersebut, bahwa Imam membaca Al-Quran seluruhnya (sampai khatam) bersama jamaah pada Bulan Ramadhan termasuk dalam mudarasah ini (yaitu mudarasah Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam bersama malaikat Jibril alaihissalam). Oleh karena itu Imam Ahmad rahimahullah suka terhadap Imam yang mengkhatamkan Al-Quran. Ini merupakan amal para salaf yaitu mendengarkan Al-Quran seluruhnya.

Akan tetapi hal ini bukan kewajiban, agar supaya bersegera dan tidak membaca secara perlahan-lahan. Ia tidak mencari kekhusyu’an dan tuma’ninah. Bahkan mencari hal ini (khusyu’ dan tuma’ninah) lebih utama daripada perhatian terhadap mengkhatamkan” (Majmu’ Fatawa bin Baz 15/324, Asy Syamilah)

Dan mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan bukanlah kewajiban, syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ختم القرآن في رمضان للصائم ليس بأمر واجب ، ولكن ينبغي للإنسان في رمضان أن يكثر من قراءة القرآن

“Mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa bukanlah perkara yang wajib. Akan tetapi sebaiknya seseorang memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan” (Majmu’ Fatawa wa Rasail 20/516)

Bolehkah Membaca Al-Qur’an Tanpa Paham Artinya ? Ini Penjelasannya

al quran tanpa paham artinya

 

Menumbuhkan semangat untuk istiqamah membaca al-Quran tiap hari itu tidak mudah. Bagi Muslim yang sudah terbiasa pun terkadang dihembusi keraguan oleh setan. Ngapain baca al-Quran banyak-banyak, udah aja, lagian kamu nggak tau artinya juga, buat apa baca al-Quran tanpa tahu artinya.. Kira-kira seperti itulah gaya setan dalam memprovokasi seorang muslim agar menghentikan aktivitas ibadahnya. Seribu satu cara digunakan setan dalam melemahkan keimanan seorang muslim.

Jika dalam diri anda termasuk saya berhembus rayuan semacam itu, jangan khawatir. Tetaplah anda dalam posisi semangat baca al-Quran di sela-sela rutinitas harian. Sebab, seorang muslim yang baca al-Quran tanpa tahu artinya InsyaAllah akan tetap mendapatkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah SWT berfirman,

QS Fatir 29-30

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Juga, banyak sekali hadits yang menunjukkan keutamaan membaca al-Quran. Dalam hadits-hadits tersebut tidak ada isyarat jika baca al-Quran tanpa tahu artinya itu berdosa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf. (HR. At-Tirmidzi no. 2835)

Dalam riwayat lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

“Siapa yang membaca seratus ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad. Hadits shahih, Shahih Al Jami’, no. 6468).

Dalam hadits Abi Umamah al-Bahili radhiyallahu anhu disebutkan,

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Abu Umamah al-Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bacalah al-Quran karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.’” (HR. Muslim).

Dari Abu Musa al-Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

“Permisalan orang yang membaca al-Quran dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca al-Quran dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca al-Quran adalah bagaikan Raihanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Orang munafik yang tidak membaca al-Quran bagaikan Hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Al-Bukhari no. 5059)

Dalam hadits lain, dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Quran kelak, ‘Bacalah dan naiklah serta tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkannya ketika di dunia. Sebab kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Hadits shahih, Syaikh Al-Albani, as-Silsilah ash-Shahihah no. 2240)

Masih ada banyak hadits yang menunjukkan keutamaan membaca al-Quran, baik hadits yang derajatnya shahih ataupun dha’if. Hadits-hadits tersebut secara zhahir tidak ada yang mengisyaratkan tidak boleh atau berdosanya baca al-Quran tanpa tahu artinya.

Justru, objek yang dituju oleh hadits-hadits tersebut adalah orang-orang yang mentadabburi ayat-ayat al-Quran, orang yang hafal al-Quran, termasuk juga orang yang hanya baca al-Quran tanpa tahu artinya.

Sedemikian agungnya al-Quran, sampai orang yang hanya baca al-Quran tanpa tahu artinya pun juga mendapat pahala dan keutamaan.

Salahkah Menitipkan Anak di Pondok Pesantren ?

Menitipkan Anak di Pesantren

Assalumu’alaikum wr, wb.

Begini pak ustadz, pada tahun ajaran baru 2007/2008 nanti saya bertekad memindahkan anak saya ke pondok pesantren yang didalamnya juga menyediankan pendidikan umum (SD). Saat ini anak saya baru kelas IV SD. Niat saya supaya anak saya lebih dini belajar agama dan pendidikan umum tentunya.

Tetapi dari 10 orang teman saya yang saya ceritakan semuanya tidak ada yang setuju, alasannya saya terlalu otoriter dan egois tidak memberikan kebahagian masa anak-anak untuk bermain sebagaiman anak-anak lainya. Memang kalau saya tanyakan langsung kepada anak saya, mau atau tidak ke pondok pesantren, jawabnya mau tetapi karena terpaksa.

Pertanyaanya:

Apakah saya bersalah dalam hal ini dholim pada anak saya, karena saya memindahkan sekolah ke pondok pesantren?

Sekian dan terima kasih,

 

Jawaban:

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan umat yang telah terbukti menghasilkan para pemimpin yang berkualitas dan handal. Berbeda dengan citra selama ini dihembuskan bahwa pesantren itu hanya melulu mengajarkan urusan akhirat saja.

Kenyataannya, begitu banyak pesantren di negeri ini yang melahirkan cendekiawan, ilmuwan, ulama dan bahkan pimpinan negara. Semau membuktikan bahwa pesantren bukanlah lembaga pendidikan kelas dua. Sebaliknya, justru pesantren adalah lembaga pendidikan kelas satu yang sudah terbukti baik dan dapat menjawab tantangan zaman.

Memang tidak semua pesantren berkualitas, di sela-sela ramainya pesantren, harus diakui masih ada beberapa yang agak tertinggal, kurang berkembang atau mengalami kendala internal. Tetapi yang kasusnya begini tidak mengurangi citra pesantren secara keseluruhan. Masih banyak pesantren yang berkualitas, mengajarkan 3 bahasa, menghasilakan lulusan terbaik, dengan hati Makkah dan otak Jerman.

Adapun kapan idealnya seorang anak masuk pesantren, memang tidak ada standar yang baku. Boleh sejak usia SD, tetapi tidak sedikit yang mengatakan lebih efektif bila mulai sejak usia SMP dan SMA.

Menurut hemat kami, yang mana saja boleh, asalkan prinsipnya tidak membuat anak menjadi tertekan, terpaksa atau terbuang. Jadi yang paling utama adalah bagaimana memberi motivasi yang benar kepada anak, bahwa dirinya akan menjadi orang hebat bila masuk pesantren.

Di zaman dahulu memang ada beberapa orang tua yang bila melihat anaknya bandel, hukumannya adalah dimasukkan ke pesantren. Ini adalah cara berpikir zaman dulu. Sekarang tentu sudah tidak lagi. Justru pesantren adalah pusat anak yang berprestasi gemilang, serta tempat untuk mendapatkan ilmu dan peradaban.

Jadi tinggal bagaimana kita bisa memberi motivasi kepada anak. Jangan sampai anak kita masuk pesantren dengan terpaksa. Paksaan adalah sesuatu yang harus dihindari. Sebab akan membuat mental anak menjadi lemah. biasakan untuk berdiskusi dan tukar pikiran dengan anak, jangan terbiasa menujukkan kekuasaan di depan anak. Jadikan anak sebagai sahabat, bukan orang yang siap ditindas.

Kalau anda mahir memberi motivasi yang baik, justru anak anda sendiri yang ribut minta masuk pesantren. Seharusnya yang muncul dalam benaknya, pesantren adalah sekolah idaman yang jadi impian dan bukan penjara suci tempat orang buangan.

Mungkin suatu ketika jauh sebelum ada wacana anda memasukkan anak ke pesantren, ajaklah berwisata ke sana. Kenalkan kepada anak bahwa di pesantren itu tiap anak akan menjadi orang besar di kemudian hari. Buktikan juga dengan berziarah kepada tokoh-tokoh yang sudah sukses, di mana dahulu mereka belajar di dalam pesantren.

Rasanya cara itu lebih elegan dan manusiawi, ketimbang main paksa kepada anak, yang nantinya anak akan merasa tertekan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sumber: Eramuslim